Minggu, 24 Agustus 2014

Aneng dan Puput dari Bandung

Aneng namanya, asli Sunda
Sejak remaja Neng panggilannya
Dan ia suka.

Di atas sajadah
Masih juga tersedu si Aneng
Jam 03.00 dini hari
Ia lantunkan doa pedih
Lirih.

...

Ketika itu Aneng lagi patah hati
Menderita penyakit yang sulit disembuhkan

Selembar puisi menempel di dinding kamarnya
Kata dirangkai dalam larik
Larik ditata dalam bait
Menyihirnya setiap kali menjelang tidur

Tak terdengar isak tangis Aneng
Yang dalam, yang berkepanjangan
Dibayangkannya sang anak
Dibayangkannya dirinya sendiri
Terombang-ambing dalam bayang-bayang kenyataan
Yang kelam

...

Putri nama aslinya, Puput panggilannya
Nama yang bagus untuk orang kota, katanya
Berasal dari keluarga kurang berada
Tinggal di salah sebuah kantong pemukiman

Di mana pun Puput dan Aneng senantiasa bersama
Tertawa-tawa, berbisik-bisik
Tukar menukar kata tentang ini-itu
Demikianlah maka mereka pun dikenal
Sebagai Ibu dan Anak, seperti adik-kakak

Aneng menuturkan semua keluh kesah
Puput menyimaknya
Dengan airmata
Yang terus mengalir di kedua pipinya

Mereka berdua larut dalam diam
Hati mereka berpelukan
Melihat wajah Aneng yang memucat
Puput kuatir penyakitnya kambuh

...

Tak terdengar sahutan apa pun
Ketika kamar Aneng diketuk lalu dibuka
Ia tetap terjaga, Puput bernapas lega
Bersiap menambah ilmu di sekolah

Namun…

Belumlah Puput duduk di kelasnya
Terdengar sahutan Si Jack
Penjaga sekolah, menyuruhnya pulang
Diantar paman

Dan ketika tiba di gerbang rumah
Puput menyaksikan akhir sebuah cerita
Aneng…
Tanpa nyawa
Sudah menghadap Mahakuasa.

Aneng sudah tiada
Sebelum sempat mendengar berita bahagia
Puput terjatuh lunglai
Menjerit histeris
Nama Tuhan bercampur air mata
Luka yang mahaperkasa bertahta.