Sabtu, 07 Mei 2016

Hujan

Kamu membuat aku merasa seperti hujan. Jatuh, terjun bebas ke bawah. Aku membuat semua orang merasa dingin.

Aku ingin mengalir ke sungai dan lalu bermuara di samudra, namun aku hanya jatuh dan pecah terkena tanah. Aku di situ-situ saja.

Aku jatuh, lalu menumpuk menjadi genangan di tempat aku jatuh.

Perasaanku pun sama.

Jatuh padamu, menumpuk menjadi genangan perasaan senang sekaligus sakit yang tak terkendalikan.

Emosi aku, Sayang. Kata sumpah serapah keluar dari mulutku. Biar, biar kau tahu, bahwa aku sangat mencintai kamu. Biar kamu tahu dampak dari seseorang yang mencintai kamu tetapi kamu kecewakan.

Selasa, 05 April 2016

Udah lama banget

Aku sekarang ngerti,
Apa yang aku alami saat ini adalah apa-apa yang sudah direncanakan Tuhan melalui perantara mamah. Beliau, mamahku, yang bersusah payah memperjuangkan segalanya untukku. Beliau kerahkan segalanya agar aku bisa menjadi lebih baik setiap harinya.
Aku sekarang ngerti,
Siapa aku saat ini adalah apa-apa yang sudah dirancang Tuhan melalui perantara mamah. Beliau, mamahku, yang berusaha di setiap helaan napasnya untuk memberikan semua agar aku bisa menjadi "PAS" di hadapan-Nya dan di mata mamah.
Aku, Putri Nabila, anaknya yang tidak pernah tahu cara berterima kasih pada apa-apa yang sudah mamah berikan, yang mamah perjuangkan, yang mamah usahakan untukku.
Aku, Putri Nabila, buah hatinya yang pertama, yang hanya ingin melihat mamah menangis terharu atas apa-apa yang sudah aku lakukan, yang aku berikan, yang aku perjuangkan untuk mamah. Tapi aku sadar, aku yang tidak sempurna ini tidak akan pernah bisa melakukan itu.
Aku, Putri Nabila, bocah tengil dan pecicilan ini, hanya ingin memberi yang terbaik dan yang sempurna untuk mamah. Tapi apa daya, yang aku lakukan selama ini hanyalah sebuah ketidakpuasan. Aku sadari itu.
Beliau, Aneng Ruhaeni, mamah yang sangat sempurna di mata anak-anaknya, terutama aku. Beliau yang membentuk wujud dan karakter "aku" yang seperti ini.
Beliau, Aneng Ruhaeni, seorang ibu yang rela berkorban disaat anak-anaknya, terutama aku, berada di masa-masa tersulit seperti 3 tahun lalu.
Beliau, Aneng Ruhaeni, mamah yang gaul, punya akun Facebook dan sangat eksis pada masanya di jejaring sosial itu. Salah satu alasan mengapa aku bangga punya mamah se-gaul beliau.
Beliau, Aneng Ruhaeni, mamah yang fashion style nya mengalahkan semua fashion designer dan model-model berkelas internasional. Salah satu alasan mengapa aku merasa nyaman dan percaya diri jika diajak jalan olehnya.
Beliau lah, Aneng Ruhaeni, mamah yang sangat kekinian. Tempat anak muda mana di Kota Bandung yang beliau tidak tahu? Bahkan aku anaknya ini tidak se-gaul dirinya.
Jelas, ini bukan tulisan untuk berterima kasih. Atau juga minta maaf. Ini hanya tulisan,
Bagaimana sosok beliau dalam merawat anak-anaknya terutama aku.
Bagaimana beliau mengutamakan kepentingan anaknya.
Bagaimana beliau memperlakukan anak-anaknya, terutama aku.
Aku memang paling dekat dengan mamah. Tidak ada yang lain.
Aku rindu mamah? Sangat.

Kamis, 16 Oktober 2014

Mengapa Aku Tidak Ada di Sana Bersamamu

Apakah ini menghancurkan hatiku, tentu saja, setiap saat dari setiap hari, menjadi semakin banyak kepingan dari pada yang menyusun hatiku, aku tidak pernah berpikir diriku pendiam, apalagi kesunyian, aku sama sekali tidak memikirkan apa pun, segalanya berubah, jarak yang menjadi jurang pemisah antara aku dan kebahagiaanku bukanlah dunia, tetapi aku, pikiranku, kesulitan mengikhlaskan yang menggorogotiku bagaikan kanker, entahlah, tapi berpikir sungguh menyakitkan, dan katakanlah kepadaku, ke tempat hebat mana kah berpikir pernah membawaku? Aku berpikir dan berpikir dan berpikir, jutaan kali aku memikirkan diriku terlepas dari kebahagiaan. Mungkin mereka tidak tahu bahwa aku telah kehilangan segalanya, tapi (mungkin) mereka tahu bahwa ada sesuatu yang hilang saat melihatku. Aku telah kehilangan satu-satunya orang yang bisa menemaniku dalam menjalani satu-satunya kehidupanku. Aku pernah mengalami kebahagiaan, namun tidak cukup. Akan kah ini cukup? Sering kali, aku merasa seolah-olah berada di tengah lautan hitam yang luas, atau di ruang angkasa, tapi bukan dengan cara yang mengasyikkan. Aku hanya merasa, semuanya tampak sungguh-sungguh jauh dariku. Hari Jum'at pagi itu aku memasuki pintu kelas, meletakkan tasku, seolah-olah semuanya aman, dan kenyataan pahit itu datang, mengerikan. Aku betul-betul butuh mendengar suara mamah.

Minggu, 21 September 2014

My mom writing in the book 'Lovely Tiger'

Masa telah berlalu, dan kini ku menyadari, perjalanan hidupku telah memasuki lembah penuh duri. Dan kini tinggal rasa sesal di hati. Berbagai pertanyaan timbul di hati, mengapa, mengapa dan mengapa… aku tak pernah dapat menemukan jawabannya, yang kurasa hanya sakit hati dan penyesalan yang paling dalam.

Saat ini aku akan memulai perjalanan baru, sesuai dengan berjalannya waktu yang telah membawaku semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. Aku bukan SMP dan SMA lagi.

Kini aku sudah dituntut untuk berfikir jernih, segala sesuatu harus kupertimbangkan dengan matang, jangan karena sebuah kata-kata yang memikat dan kemegahan yang mempesona, sehingga aku terlena kedalamnya, aku tak mau hal itu terjadi lagi, aku benar-benar ingin memulai langkahku yang baru.

Rasanya aku sudah lelah untuk terus berjalan. Suatu saat aku singgah di sebuah rumah, sesudah aku bosan dan kesal, aku singgah lagi di rumah yang lain dan begitu seterusnya, yang aku tidak tahu mengapa aku berlaku seperti itu. Apa yang sesungguhnya aku cari dalam perjalanan itu, tidak sedikit orang telah merasakan kekecewaan karena sifat jelekku, yang tidak pernah merasa puas dan selalu cepat bosan. Padahal sebenarnya aku ingin merasa cukup dengan apa yang telah aku miliki, aku ingin merawat, memperhatikan, dan mencurahkan semua perasaanku padanya, tapi nyatanya semua itu sulit sekali, aku ingin sekali membuang sifat jelekku yang mudah jatuh hati juga mudah bosan, tapi bagaimana caranya?

Minggu, 24 Agustus 2014

Aneng dan Puput dari Bandung

Aneng namanya, asli Sunda
Sejak remaja Neng panggilannya
Dan ia suka.

Di atas sajadah
Masih juga tersedu si Aneng
Jam 03.00 dini hari
Ia lantunkan doa pedih
Lirih.

...

Ketika itu Aneng lagi patah hati
Menderita penyakit yang sulit disembuhkan

Selembar puisi menempel di dinding kamarnya
Kata dirangkai dalam larik
Larik ditata dalam bait
Menyihirnya setiap kali menjelang tidur

Tak terdengar isak tangis Aneng
Yang dalam, yang berkepanjangan
Dibayangkannya sang anak
Dibayangkannya dirinya sendiri
Terombang-ambing dalam bayang-bayang kenyataan
Yang kelam

...

Putri nama aslinya, Puput panggilannya
Nama yang bagus untuk orang kota, katanya
Berasal dari keluarga kurang berada
Tinggal di salah sebuah kantong pemukiman

Di mana pun Puput dan Aneng senantiasa bersama
Tertawa-tawa, berbisik-bisik
Tukar menukar kata tentang ini-itu
Demikianlah maka mereka pun dikenal
Sebagai Ibu dan Anak, seperti adik-kakak

Aneng menuturkan semua keluh kesah
Puput menyimaknya
Dengan airmata
Yang terus mengalir di kedua pipinya

Mereka berdua larut dalam diam
Hati mereka berpelukan
Melihat wajah Aneng yang memucat
Puput kuatir penyakitnya kambuh

...

Tak terdengar sahutan apa pun
Ketika kamar Aneng diketuk lalu dibuka
Ia tetap terjaga, Puput bernapas lega
Bersiap menambah ilmu di sekolah

Namun…

Belumlah Puput duduk di kelasnya
Terdengar sahutan Si Jack
Penjaga sekolah, menyuruhnya pulang
Diantar paman

Dan ketika tiba di gerbang rumah
Puput menyaksikan akhir sebuah cerita
Aneng…
Tanpa nyawa
Sudah menghadap Mahakuasa.

Aneng sudah tiada
Sebelum sempat mendengar berita bahagia
Puput terjatuh lunglai
Menjerit histeris
Nama Tuhan bercampur air mata
Luka yang mahaperkasa bertahta.