Welcome
It's better to be alone sometimes...
Sabtu, 07 Mei 2016
Hujan
Selasa, 05 April 2016
Udah lama banget
Bagaimana beliau mengutamakan kepentingan anaknya.
Bagaimana beliau memperlakukan anak-anaknya, terutama aku.
Kamis, 16 Oktober 2014
Mengapa Aku Tidak Ada di Sana Bersamamu
Apakah ini menghancurkan hatiku, tentu saja, setiap saat dari setiap hari, menjadi semakin banyak kepingan dari pada yang menyusun hatiku, aku tidak pernah berpikir diriku pendiam, apalagi kesunyian, aku sama sekali tidak memikirkan apa pun, segalanya berubah, jarak yang menjadi jurang pemisah antara aku dan kebahagiaanku bukanlah dunia, tetapi aku, pikiranku, kesulitan mengikhlaskan yang menggorogotiku bagaikan kanker, entahlah, tapi berpikir sungguh menyakitkan, dan katakanlah kepadaku, ke tempat hebat mana kah berpikir pernah membawaku? Aku berpikir dan berpikir dan berpikir, jutaan kali aku memikirkan diriku terlepas dari kebahagiaan. Mungkin mereka tidak tahu bahwa aku telah kehilangan segalanya, tapi (mungkin) mereka tahu bahwa ada sesuatu yang hilang saat melihatku. Aku telah kehilangan satu-satunya orang yang bisa menemaniku dalam menjalani satu-satunya kehidupanku. Aku pernah mengalami kebahagiaan, namun tidak cukup. Akan kah ini cukup? Sering kali, aku merasa seolah-olah berada di tengah lautan hitam yang luas, atau di ruang angkasa, tapi bukan dengan cara yang mengasyikkan. Aku hanya merasa, semuanya tampak sungguh-sungguh jauh dariku. Hari Jum'at pagi itu aku memasuki pintu kelas, meletakkan tasku, seolah-olah semuanya aman, dan kenyataan pahit itu datang, mengerikan. Aku betul-betul butuh mendengar suara mamah.
Minggu, 21 September 2014
My mom writing in the book 'Lovely Tiger'
Masa telah berlalu, dan kini ku menyadari, perjalanan hidupku telah memasuki lembah penuh duri. Dan kini tinggal rasa sesal di hati. Berbagai pertanyaan timbul di hati, mengapa, mengapa dan mengapa… aku tak pernah dapat menemukan jawabannya, yang kurasa hanya sakit hati dan penyesalan yang paling dalam.
Saat ini aku akan memulai perjalanan baru, sesuai dengan berjalannya waktu yang telah membawaku semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. Aku bukan SMP dan SMA lagi.
Kini aku sudah dituntut untuk berfikir jernih, segala sesuatu harus kupertimbangkan dengan matang, jangan karena sebuah kata-kata yang memikat dan kemegahan yang mempesona, sehingga aku terlena kedalamnya, aku tak mau hal itu terjadi lagi, aku benar-benar ingin memulai langkahku yang baru.
Rasanya aku sudah lelah untuk terus berjalan. Suatu saat aku singgah di sebuah rumah, sesudah aku bosan dan kesal, aku singgah lagi di rumah yang lain dan begitu seterusnya, yang aku tidak tahu mengapa aku berlaku seperti itu. Apa yang sesungguhnya aku cari dalam perjalanan itu, tidak sedikit orang telah merasakan kekecewaan karena sifat jelekku, yang tidak pernah merasa puas dan selalu cepat bosan. Padahal sebenarnya aku ingin merasa cukup dengan apa yang telah aku miliki, aku ingin merawat, memperhatikan, dan mencurahkan semua perasaanku padanya, tapi nyatanya semua itu sulit sekali, aku ingin sekali membuang sifat jelekku yang mudah jatuh hati juga mudah bosan, tapi bagaimana caranya?
Minggu, 24 Agustus 2014
Aneng dan Puput dari Bandung
Aneng namanya, asli Sunda
Sejak remaja Neng panggilannya
Dan ia suka.
Di atas sajadah
Masih juga tersedu si Aneng
Jam 03.00 dini hari
Ia lantunkan doa pedih
Lirih.
...
Ketika itu Aneng lagi patah hati
Menderita penyakit yang sulit disembuhkan
Selembar puisi menempel di dinding kamarnya
Kata dirangkai dalam larik
Larik ditata dalam bait
Menyihirnya setiap kali menjelang tidur
Tak terdengar isak tangis Aneng
Yang dalam, yang berkepanjangan
Dibayangkannya sang anak
Dibayangkannya dirinya sendiri
Terombang-ambing dalam bayang-bayang kenyataan
Yang kelam
...
Putri nama aslinya, Puput panggilannya
Nama yang bagus untuk orang kota, katanya
Berasal dari keluarga kurang berada
Tinggal di salah sebuah kantong pemukiman
Di mana pun Puput dan Aneng senantiasa bersama
Tertawa-tawa, berbisik-bisik
Tukar menukar kata tentang ini-itu
Demikianlah maka mereka pun dikenal
Sebagai Ibu dan Anak, seperti adik-kakak
Aneng menuturkan semua keluh kesah
Puput menyimaknya
Dengan airmata
Yang terus mengalir di kedua pipinya
Mereka berdua larut dalam diam
Hati mereka berpelukan
Melihat wajah Aneng yang memucat
Puput kuatir penyakitnya kambuh
...
Tak terdengar sahutan apa pun
Ketika kamar Aneng diketuk lalu dibuka
Ia tetap terjaga, Puput bernapas lega
Bersiap menambah ilmu di sekolah
Namun…
Belumlah Puput duduk di kelasnya
Terdengar sahutan Si Jack
Penjaga sekolah, menyuruhnya pulang
Diantar paman
Dan ketika tiba di gerbang rumah
Puput menyaksikan akhir sebuah cerita
Aneng…
Tanpa nyawa
Sudah menghadap Mahakuasa.
Aneng sudah tiada
Sebelum sempat mendengar berita bahagia
Puput terjatuh lunglai
Menjerit histeris
Nama Tuhan bercampur air mata
Luka yang mahaperkasa bertahta.