Apakah ini menghancurkan hatiku, tentu saja, setiap saat dari setiap hari, menjadi semakin banyak kepingan dari pada yang menyusun hatiku, aku tidak pernah berpikir diriku pendiam, apalagi kesunyian, aku sama sekali tidak memikirkan apa pun, segalanya berubah, jarak yang menjadi jurang pemisah antara aku dan kebahagiaanku bukanlah dunia, tetapi aku, pikiranku, kesulitan mengikhlaskan yang menggorogotiku bagaikan kanker, entahlah, tapi berpikir sungguh menyakitkan, dan katakanlah kepadaku, ke tempat hebat mana kah berpikir pernah membawaku? Aku berpikir dan berpikir dan berpikir, jutaan kali aku memikirkan diriku terlepas dari kebahagiaan. Mungkin mereka tidak tahu bahwa aku telah kehilangan segalanya, tapi (mungkin) mereka tahu bahwa ada sesuatu yang hilang saat melihatku. Aku telah kehilangan satu-satunya orang yang bisa menemaniku dalam menjalani satu-satunya kehidupanku. Aku pernah mengalami kebahagiaan, namun tidak cukup. Akan kah ini cukup? Sering kali, aku merasa seolah-olah berada di tengah lautan hitam yang luas, atau di ruang angkasa, tapi bukan dengan cara yang mengasyikkan. Aku hanya merasa, semuanya tampak sungguh-sungguh jauh dariku. Hari Jum'at pagi itu aku memasuki pintu kelas, meletakkan tasku, seolah-olah semuanya aman, dan kenyataan pahit itu datang, mengerikan. Aku betul-betul butuh mendengar suara mamah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar